Dewan Kehormatan PWI
Gd Dewan Pers Lt IV
Jalan Kebon Sirih 34
Jakarta, 10110
Telp : 021-3453131
Fax : 021-3453175
Kebebasan Pers atau Kebablasan Pers
Kamis, 09 September 2010Search :
Rajawali Citra Televisi IndonesiaKOMPASPikiran Rakyat
Saur Hutabarat: Pers Perlu Industrikan Idealisme
Selasa, 10 November 2009

Cisarua (PWI News) - Pers yang ingin terus hidup menghadapi tantangan zaman perlu mengindustrikan idealisme, yakni menjalankan bisnis pers yang sarat dengan kreativitas dan misi maupun visinya demi kepentingan publik, kata wartawan senior dari Media Group dan Metro TV, Saur Hutabarat



"Dalam hal ini bukan berarti wartawan dan pers menggadaikan idealismenya. Namun, wartawan dan pers harus sadar bahwa mereka juga berada di tengah dunia bisnis yang berkembang pesat. Idealisme pers harus tetap di depan, tapi sekaligus bisa menjadi potensi bisnis," kata mantan wartawan majalah Tempo itu.



Saur pun berpendapat, pers senantiasa harus mampu menjembatani kepentingan di mana ada ruang privat dan ruang publik. "Dalam hal ini idealisme wartawan di tengah industri pers senantiasa diuji, karena pers yang hanya mencari keuntungan besar saja justru akan ditinggalkan publik yang semakin cerdas," katanya.



Hal senada sempat dikemukakan pula oleh anggota Dewan Pers dan CEO Tempo Grup, Bambang Harymurti, yang menilai bahwa yang menentukan pers sehat secara bisnis justru adanya unsur menjaga idealisme, independensi dan kredibilitas pemberitaannya.



"Sejumlah referensi yang membahas bisnis modern semakin menunjukkan bahwa bisnis yang sukses harus punya kredibilitas. Jadi, kalau ada media yang hanya mementingkan keuntungan besar semata, maka nafasnya jangka pendek karena publik hanya melihatnya sesaat. Tapi, kalau pers punya kredibilitas tinggi nafasnya jauh lebih panjang, bahkan dibela publik," ujarnya.



Dalam forum yang sama, Daniel Dhakidae selaku Pemimpin Redaksi Majalah Prisma dan mantan Kepala Penelitian dan Pengembangan Kompas Grup mengemukakan, pers saat ini bukan lagi kuli tinta, namun banyak yang beralih menjadi kuli partai.



"Bagaimana tidak? Pers belakangan ini semakin banyak yang terlihat menyuarakan hampir semua pekerjaan partai politik, dan beritanya lebih dominan seputar kegiatan partai, dan lupa kepentingan publik. Di mana posisi pers yang seharusnya ibarat menjadi padi yang berada di depan kuda, agar padati yang dinaiki rakyat bisa berlari kencang?," ujar doktor lulusan Universitas Cornel di Amerika Serikat (AS) itu, mengambil tamsil ala penulis Pavlov.



Oleh karena itu, Daniel pun menambahkan, wartawan senantiasa harus disegarkan pola pikirnya. "Paling tidak, wartawan harus saling mengingatkan bahwa publik selalu menanti peran pers. Kalau pers kehilangan arah dan gagal menjadi padi di depan kuda, maka gerobak bisa berjalan tanpa arah atau bahkan terjerebab entah ke mana," ujarnya. (*)


Pemilihan Anggota Dewan Pers Masa Bakti 2010-2013
DPR Dukung Kemerdekaan Pers
PWI, AJI dan IJTI Kecam Mabes Polri Panggil KOMPAS dan SINDO
Polisi Batal Panggil Media, Dewan Pers Taruh Hormat
Dewan Pers Bentuk Badan Pekerja Anggota Baru
KPI-Dewan Pers Tidak Larang Siaran Langsung Pengadilan
PWI Tolak KPI Larang Siaran Langsung di Pengadilan
Anugerah Jurnalistik ADINEGORO 2009 Berhadiah Rp250 Juta
95 % Media Pro-Cicak
PWI Pusat Luluskan 36 Pelatih Jurnalistik Nasional
 
 Kode Etik Harga Mati